▴Hari Anak Nasional▴
- DPRD Terima Aspirasi Soal Kasus Mini Zoo, Aksi Massa Tuntut Penambahan Tersangka
- Bapemperda DPRD Purworejo Koordinasikan Perubahan Propemperda, Dua Raperda Baru Diusulkan Masuk Prioritas
- Polosoro Diminta Tetap Jaga Semangat Pendiri di Bawah Kepemimpinan Andi Prasetiawan
- Ferro Setiasono dan Alfin Ma\'ruf Bekali Pelajar Pemahaman Politik dalam Pendidikan Politik di SMA N 10 Purworejo
- Anak Sehat Akan Optimal Ikuti Proses Belajar
- Much Dahlan Minta Jamaah Haji Jadi teladan Jaga kerukunan
- Estri Utami Dorong Pokir DPRD Sinkron dengan Program OPD demi Tepat Sasaran
- Komisi IV DPRD Soroti Minimnya Anggaran Perbaikan Sarana Sekolah dalam KUA-PPAS 2027
- DPRD Dorong Kejelasan Pemanfaatan Hotel Ganesha melalui Skema Kerja Sama
- Komisi II DPRD Purworejo Maraton Bahas KUA-PPAS 2027 Bersama Lima OPD Mitra Kerja
900 Hektare Sawah di Grabag Terancam Gagal Panen, Tursiyati Angkat Bicara
.png)
Kerusakan saluran irigasi dari Kutoarjo menuju wilayah selatan menjadi perhatian serius DPRD Kabupaten Purworejo. Anggota DPRD dari Fraksi NasDem sekaligus Ketua Komisi III, Tursiyati, mengungkapkan bahwa ratusan hektare lahan pertanian di Kecamatan Grabag terancam gagal panen pada masa tanam kedua.
“Petani di sepanjang Urut Sewu, Grabag itu kebutuhan air irigasinya dari Kutoarjo ke selatan. Nah, khusus Grabag ada kurang lebih 900 sekian hektar yang terancam di masa tanam kedua ini gagal panen,” kata Tursiyati, Rabu (24/4/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut sangat memprihatinkan karena sebagian petani sudah mulai menanam. Namun, air yang seharusnya mengalir ke sawah justru banyak terbuang akibat kebocoran di sepanjang jaringan irigasi.
“Padahal debit air dari waduk itu full, tidak kurang. Tapi persoalannya, airnya bocor di sepanjang saluran dari Kutoarjo sampai Grabag. Jadi air itu mubazir, malah mengalir ke permukiman penduduk,” jelasnya.
Ia menambahkan, kerusakan saluran irigasi bahkan sudah mencapai tahap mengkhawatirkan. Di beberapa titik ditemukan kebocoran yang menggerus tanah hingga melewati bawah jalan raya.
“Ada yang sampai ngerong lewat bawah jalan raya. Ini kalau dibiarkan, jalan bisa ambles. Itu nyata di lapangan,” tegasnya.
Tursiyati menyebut, kewenangan perbaikan saluran irigasi tersebut memang berada di tingkat yang lebih tinggi, yakni instansi Sumber Daya Air (SDA) provinsi maupun pusat. Meski demikian, ia meminta Pemerintah Kabupaten Purworejo untuk segera bertindak cepat dengan melakukan koordinasi lintas instansi.
“Kami berharap Pemkab cepat tanggap, berkoordinasi dengan pihak terkait sampai ke provinsi dan pusat,” katanya.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa solusi yang dibutuhkan bukan sekadar perbaikan sementara, melainkan rehabilitasi total jaringan irigasi agar permasalahan tidak terus berulang.
“Tidak cukup hanya penambalan. Harus direhab total. Kalau petani harus satu atau dua masa tanam tidak dapat air karena perbaikan, mereka masih bisa menerima. Tapi setelah itu irigasi harus benar-benar bagus agar panen berkelanjutan,” ungkapnya.
Menurutnya, persoalan ini juga berkaitan langsung dengan upaya menjaga ketahanan pangan daerah. Ia menilai, tanpa dukungan sarana dan prasarana yang memadai, target ketahanan pangan sulit tercapai.
“Kalau ketahanan pangan jadi harapan, tapi fasilitasnya tidak mendukung, ya tidak mungkin tercapai. Kami sangat prihatin, petani sudah susah, berharap dari sawah, tapi sawahnya tidak ada air,” ujarnya.
Dalam dua pekan terakhir, Tursiyati mengaku telah berkeliling ke sejumlah titik di wilayah Grabag dan menemukan kondisi serupa. Ia juga menduga persoalan ini tidak hanya terjadi di Grabag, tetapi berpotensi juga di wilayah lain seperti Ngombol dan Butuh.
“Ini baru Grabag, mungkin di Ngombol atau Butuh juga ada. Jadi memang perlu perhatian serius dan langkah konkret dari pemerintah,” terang Tursiyati. (*)



