▴Hari Anak Nasional▴
- DPRD Terima Aspirasi Soal Kasus Mini Zoo, Aksi Massa Tuntut Penambahan Tersangka
- Bapemperda DPRD Purworejo Koordinasikan Perubahan Propemperda, Dua Raperda Baru Diusulkan Masuk Prioritas
- Polosoro Diminta Tetap Jaga Semangat Pendiri di Bawah Kepemimpinan Andi Prasetiawan
- Ferro Setiasono dan Alfin Ma\'ruf Bekali Pelajar Pemahaman Politik dalam Pendidikan Politik di SMA N 10 Purworejo
- Anak Sehat Akan Optimal Ikuti Proses Belajar
- Much Dahlan Minta Jamaah Haji Jadi teladan Jaga kerukunan
- Estri Utami Dorong Pokir DPRD Sinkron dengan Program OPD demi Tepat Sasaran
- Komisi IV DPRD Soroti Minimnya Anggaran Perbaikan Sarana Sekolah dalam KUA-PPAS 2027
- DPRD Dorong Kejelasan Pemanfaatan Hotel Ganesha melalui Skema Kerja Sama
- Komisi II DPRD Purworejo Maraton Bahas KUA-PPAS 2027 Bersama Lima OPD Mitra Kerja
Sokhibal Untung: Listrik di Lahan Pertanian Bisa Jadi Solusi Krisis Air

Permintaan bantuan pompa air dan jaringan listrik untuk kebutuhan irigasi pertanian menjadi salah satu aspirasi yang paling menonjol dalam Reses Masa Persidangan Kedua Tahun 2026 Anggota DPRD Kabupaten Purworejo dari Fraksi PKB di Daerah Pemilihan (Dapil) V yang meliputi Kecamatan Kemiri, Pituruh, dan Bruno. Aspirasi tersebut muncul dari kelompok tani yang mengeluhkan tingginya biaya penyedotan air menggunakan mesin diesel saat musim kemarau.
Hal itu disampaikan Anggota DPRD Kabupaten Purworejo Fraksi PKB, Sokhibal Untung, saat diwawancarai pada Kamis (11/6/2026) terkait hasil pelaksanaan reses yang berlangsung pada 27 Mei hingga 1 Juni 2026.
Menurut Sokhibal, usulan tersebut disampaikan oleh kelompok tani dan gabungan kelompok tani (Gapoktan) di Desa Sumber, Kecamatan Pituruh. Para petani mengaku kesulitan mendapatkan air untuk mengairi lahan pertanian ketika musim kemarau tiba.
“Keluhan yang disampaikan masyarakat berkaitan dengan kekurangan air. Mereka meminta bantuan pompa dan jaringan listrik untuk kebutuhan pertanian karena selama ini masih menggunakan diesel yang biayanya cukup besar,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kebutuhan air menjadi persoalan penting bagi petani padi maupun palawija saat musim kemarau. Meski terdapat sumber air di sekitar lahan pertanian, biaya operasional penyedotan air menggunakan bahan bakar minyak dinilai memberatkan petani.
Menurutnya, penggunaan listrik untuk menggerakkan pompa air akan jauh lebih hemat dibandingkan penggunaan mesin diesel yang selama ini digunakan petani.
“Mereka berharap ada bantuan pemasangan jaringan listrik dan meteran ke area persawahan. Dengan listrik, biaya operasional menjadi lebih ringan sehingga petani tidak terlalu terbebani saat melakukan penyiraman,” katanya.
Sokhibal menuturkan, aspirasi tersebut akan ditindaklanjuti dengan pengecekan lapangan untuk mengetahui kebutuhan riil petani serta kemungkinan dukungan yang dapat diberikan melalui program pembangunan maupun aspirasi dewan.
Ia menambahkan, model pemanfaatan listrik untuk kebutuhan pertanian sebenarnya telah diterapkan di Desa Kemiri Kidul Kecamatan Kemiri dan dinilai cukup berhasil membantu aktivitas petani, terutama saat musim kemarau.
Menurutnya, keberadaan jaringan listrik di area pertanian memungkinkan petani melakukan penyiraman secara lebih efisien. Bahkan, banyak petani yang memanfaatkan waktu malam hari untuk mengelola lahan karena kondisi lebih nyaman dan biaya operasional lebih rendah.
“Di Kemiri Kidul sudah berjalan. Petani memasang meteran listrik di area pertanian dan hasilnya cukup membantu. Bahkan malam hari para petani tetap semangat bekerja di lahan karena fasilitasnya sudah mendukung,” jelasnya.
Selain membantu menekan biaya produksi pertanian, Sokhibal berharap pola tersebut dapat dikembangkan di desa-desa lain, khususnya wilayah yang mengalami kesulitan air saat musim kemarau.
“Kami akan melihat kebutuhan di lapangan. Jika memang diperlukan, tentu akan kami perjuangkan agar petani tidak kesulitan memperoleh air dan biaya produksinya bisa lebih efisien,” jelas Untung. (*)



